By : Rudolf Arlano
Dulu ku pernah menatap sebuah mata
Bagai telaga keikhlasan yang menampung semua emosiku
Meneduhkan hati
Membasuh luka hitamku
Dulu ku masih memiliki sentuhan kasihmu
Yang selalu memeluk rindu
Membelai mesra
Tiap getir dan pahitnya hidupku
Dulu dengan tanganmu kau menggegam jemariku
Seolah tak ingin terlepas
Dengan tatapan sayangmu
Kau menguatkan aku
Menghapus air mataku
Namun itu dulu
Semua kini berbeda
Semua sudah jadi garis takdirku
Hanya Tuhan yang tau
Engkaulah cinta dalam hatiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar